Antara Menjaga Keikhlasan dan Transparansi Keuangan

Januari 26, 2009

P28-12-08_07.21[1] Ketika wacana donasi digulirkan, salah satu yang diajukan para calon donatur adalah, agar nama-nama donatur tidak perlu dipublikasikan. Alasannya, apalagi jika bukan untuk menjaga keikhlasan dari para donatur. Nama beserta donasi yang diumumkan, memang bisa menggelincirkan niat atau keikhlasan para donatur, menjadi riya (ingin terlihat) maupun sum’ah (ingin populer).

Disisi lain, pengelolaan dana yang masuk dari para donatur, tentu saja perlu dipertanggung-jawabkan oleh para pengurus DKM. Salah satu mekanisme yang mudah untuk mengawasi penerimaan donasi oleh para donatur, sebenarnya dari pencantuman nama beserta donasinya pada setiap laporan. Pencantuman ini, bisa menutup berbagai pintu penyimpangan. Sebab, apabila tidak diumumkan, atau sekedar diumumkan agregrat dari donasi yang masuk, sulit untuk mencek apakah dana seorang donatur termasuk di dalamnya, ataukah tidak. Sulit pula untuk mencek ulang, antara besaran dana yang diumumkan dengan dana yang sebenarnya dihimpun. Bila diumumkan, setidaknya, para donatur bisa melihat bahwa donasinya resmi telah diterima oleh pengurus, tidak masuk ke “kantung pribadi”. Langkah pengawasan berikutnya pun akan mudah, misalnya dalam penggunaan dana yang telah dihimpun.

Apakah dengan pencatatan yang detail seperti itu menunjukkan adanya saling ketidakpercayaan? Sehingga seluruh donatur beserta donasinya harus dicatat dan diumumkan? Sama sekali bukan. Bahkan salah seorang ustadz menegaskan, mencatat masalah uang seperti halnya hutang piutang, disyariatkan. Tegas diperintahkan dalam al-Quran. Pencatatan ini, bukan karena adanya ketidakpercayaan, tetapi justru untuk menjaga kepercayaan itu sendiri. Sebab, ketika seorang donatur menitipkan donasinya kepada pengurus, tentu dikarenakan ia percaya. Nah, pencatatan dan transparansi laporan itu, adalah mekanisme agar kepercayaan donatur tersebut terjaga.

Atau, apakah jika dituntut transparan seperti itu, tidak membuat pengurus “tersinggung” atau “repot”. Tersinggung? Samasekali tidak. Justru dengan transparansi keuangan ini, amanah pengurus menjadi lebih ringan, sebab setiap donatur atau pihak lain, bisa ikut mengawasi pemasukan dan pengeluaran dana DKM. Bahkan, terjaga pula para pengurus dari kemungkinan menyimpang. Sedangkan masalah repot, sejak awal menerima amanah menjadi pengurus DKM, hal itu telah disadari, dan kerepotan itu mudah-mudahan menjadi nilai tambah bagi para pengurus DKM sebagai bentuk amal shalih dalam pandangan Allah SWT.

Namun, hingga saat ini, bentuk transparansi laporan keungan seperti apa yang akan disusun oleh pengurus DKM, belum memiliki formatnya. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat –setidaknya di akhir bulan Muharam ini- format tersebut telah tersusun. Salah satu alternatif yang muncul adalah memberikan rincian donasi beserta nama donaturnya di blog ini, namun hanya dapat diakses oleh para donatur saja. Alternatif lainnya, laporan terinci donasi beserta nama donaturnya, hanya diberikan kepada para donatur, tidak untuk dipublikasikan ke seluruh warga (umum). Dengan dua alternatif ini, mudah-mudahan keikhlasan para donatur tidak terganggu, begitupula mekanisme pengawasan pun bisa berjalan melalui transparansi laporan keuangan DKM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: