Wilayah Di Dalam Komplek Diluar Blok

Januari 20, 2009

P23-10-08_11.45[2] Masalah ini sesungguhnya telah cukup sering dibicarakan, yaitu berhubungan dengan wilayah di dalam komplek tetapi diluar blok. Wilayah ini kondisinya agak berbeda dengan di dalam blok, dimana di masing-masing blok telah dipenuhi oleh rumah beserta penghuninya. Selain itu, karena telah ramai dengan penghuni, perhatian warga atas kondisi wilayahnya pun relatif lebih baik. Agak berbeda kondisinya dengan wilayah diluar blok, tetapi masih di dalam komplek. Sebagian besar wilayah ini masih berupa tanah kosong, sedangkan rumah yang berpenghuni baru 2 rumah.

Ada beberapa permasalahan yang muncul dari kondisi wilayah seperti itu, namun yang terkait dengan keberadaan masjid, dimana masjid berada di wilayah diluar blok namun di dalam komplek tersebut, setidaknya ada 2 hal yang urgen, yaitu:

 

  • maraknya wilayah “kosong” ini dijadikan tempat mesum dan maksiat oleh orang-orang yang tidak jelas. Beberapa kali telah dilakukan tindakan secara langsung, oleh ketua RW dan jama’ah masjid, maupun oleh sebagian warga. Namun, rupanya tindakan sporadis ini tidak cukup, karena belakangan perilaku tersebut muncul kembali.
  • ramainya penggunaan fasilitas umum yang berdampingan dengan masjid. Disatu sisi, hal ini bisa jadi konstribusi positif dari warga untuk masyarakat sekitar, namun disisi lain, karena tidak “jelas” pengaturannya, berdampak negatif. Dampak negatif bagi masjid, seringkali kegiatan berlangsung disaat adzan berkumandang. Ini merupakan pemandangan yang memprihatinkan, terlebih para pemakai tersebut adalah guru beserta anak-anak didiknya.

Adapun masalah yang tidak terkait langsung dengan masjid, ialah:

  • kondisi yang cenderung gelap sangat riskan, karena masih ada warga dari kalangan wanita (ibu-ibu, remaja puteri) yang pulang atau pergi di malam hari.
  • ramainya wilayah tersebut dijadikan arena “balap” dan aksi oleh remaja dan pemuda, yang tentu saja sangat riskan terjadi kecelakaan.
  • rusaknya pohon-pohon yang sudah ditanam dan dirawat bertahun-tahun.
  • tidak terpeliharanya fasilitas umum. (termasuk penggunaan fasilitas yang ada di masjid)

Itu contoh kecil beberapa permasalahan yang muncul dari wilayah “kosong” tersebut. Dalam beberapa kesempatan, ketua RW bapak Arrofa sendiri memang telah memiliki rencana untuk pengaturan wilayah tersebut. Bahkan, bapak Adang selaku sekretaris RW pun pernah menyampaikan akan diadakannya musyawarah bersama warga, diantaranya untuk membahas berbagai permasalahan, yang rencananya akan diadakan dipenghujung tahun 2008 lalu. Namun, disebabkan oleh kesibukan yang sangat padat, acara tersebut belum sempat diadakan.

Dari ketua RW sendiri sebenarnya pun telah memiliki beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan wilayah tersebut. Hal ini misalnya, terkait dengan mekanisme pengawanan wilayah komplek serta pengaturan berbagai fasilitas milik umum (warga). Demikian halnya bapak Adang pun telah memiliki gambaran bagaimana agar fasilitas itu bisa benar-benar bermanfaat, baik buat warga komplek maupun umum, dan masing-masing bisa menjaga dan memelihara fasilitas tersebut bersama-sama, bahkan lebih jauh muncul wacana fasilitas tersebut bisa menjadi salah satu pemasukan.

Berbagai alternatif untuk menyelesaikan masalah sudah tersedia. Tinggal satu langkah lagi, action… mewujudkannya. Insya Allah, berdasarkan wacana yang berkembang, jamaah masjid mendukung penuh langkah yang telah direncanakan oleh para pengurus RW, khususnya dalam menangani wilayah “kosong” tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: