Total Football Communication

Januari 20, 2009

P14-12-08_18.44 Jangan menanyakan istilah ini kepada Kang Jalal, sang pakar komunikasi, sebab ini hanyalah istilah yang dilontarkan oleh seorang awam mantan penggemar (nonton) sepakbola. Istilah ini untuk menjelaskan komunikasi yang dijalankan DKM al-Amanah, terutama kepada warganya, dengan segala cara dan polah. Kredo dasarnya, the truth is outthere… kebenaran ada diluarsana, ada di warga. Artinya, para pengurus DKM selalu harus introspeksi. Masalahnya ada dipengurus DKM, bukan di warga. Jika program tertunda-tunda, pengajian “sepi”, dukungan warga minim, maka “kesalahan” ada di pengurus.

Maka adalah tabu bagi DKM untuk menyalahkan warga. Ketua DKM tidak sepantasnya menyalahkan pengurus apabila program tidak jalan. Memahami kesibukan para pengurus dan keletihan mereka, hal itu bisa dimaklumi. Masalahnya, tinggal bagaimana mencari jalan berkomunikasi dengan pengurus diantara waktu mereka yang sempit dan tenaga mereka yang telah terkuras. Pengurus bidang ibadah pun tidak perlu memvonis warga jika shalat berjamaah di masjid tidak kunjung padat dan ramai, tinggal berkaca diri dan instrospeksi atas usaha apa yang telah dilakukan untuk mengajak warga ke masjid. Ketua bidang ta’lim pun janganlah sekali-kali menuduh bahwa warga belum diberi “hidayah dan taufiq” karena mereka tidak berbondong-bondong menghadiri majlis ta’lim. Sepatutnya mencari cara dan jalan, mengajak yang lebih bijak dan efektif. Begitu pula dengan ketua bidang sarana prasarana. Tugas pengurus DKM memang mengajak, bukan menghakimi. Amanah pengurus adalah membujuk bukan menunjuk (menuduh).

Nah, salah satu hasil evaluasi yang seringkali dibicarakan diantara pengurus masjid, adalah masih lemahnya komunikasi (da’wah) kepada warga, belum maksimal. Karena itulah muncul istilah total football, artinya mengerahkan seluruh cara dan sarana yang memungkinkan untuk komunikasi dengan warga. Mengapa komunikasi ini dipandang perlu, penting dan mendesak, karena ternyata tidak semua warga mengetahui agenda kegiatan DKM, munculnya kesimpangsiuran informasi yang perlu diluruskan dan dijelaskan, serta memperoleh umpan balik (feedback) dari warga.

Saat ini DKM sendiri telah mulai mencoba menata media (sarana) komunikasinya, diantaranya:

  • buletin. ini adalah sarana yang cukup efektif untuk menjadi media informasi dan komunikasi antara dkm dengan warga. saat ini, buletin suara al-amanah coba dikelola kembali dan dikembalikan pada tujuan dan fungsi asalnya, yakni sebagai media informasi dan komunikasi. Insya Allah, buletin ini akan disebarkan setiap minggu ke seluruh warga muslim.
  • blog. ini juga merupakan sarana yang cukup efektif, khususnya untuk warga yang tidak memiliki kesempatan untuk hadir di masjid maupun yang sering berdinas diluar kota. Alhamdulillah, kehadiran blog ini bisa menjadi sarana bagi sebagian warga untuk mengikuti perkembangan kegiatan dkm.
  • chatting. ini juga sarana yang efektif dan efisien untuk menjalin komunikasi langsung dengan warga, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Maksudnya, sekalipun berada di luar kota bisa tetap berkomunikasi, begitu pula waktunya tidak dibatasi. Kapan saja ada kesempatan bisa komunikasi. Sarana ini cukup efektif digunakan komunikasi dan “rapat” diantara pengurus DKM dan LAZ.
  • milis. ini adalah sarana terbaru, hanyasaja belum digunakan maksimal. Penggunaannya belum direncanakan dengan baik, apakah sebagai sarana diskusi ataukah untuk tujuan lainnya. Hanyasaja, sementara yang mungkin adalah penyebaran buletin Suara al-Amanah, dalam format PDF, sehingga bisa dinikmati oleh warga dan forum milis. Sebab, sangat mungkin ada warga yang tidak memperoleh buletin tersebut.
  • surat pemberitahuan. Ini adalah sarana tradisional dan mahal. Membuat surat edaran setiap kali ada kegiatan. Biayanya cukup tinggi, untuk memfotocopy. Dan memerlukan waktu dan tenaga untuk mengedarkannya. Tetapi, sarana ini tetap digunakan.
  • sms. Nah, ini adalah sarana baru yang mudah dan murah. Hanyasaja penguasaan teknonologinya masih minim. Pengurus DKM belum bisa mengirimkan sms secara bersamaan dalam satu waktu, diperlukan software khusus barangkali. Untuk sementara SMS ini digunakan untuk Info kegiatan. Pada waktu dekat, insya Allah akan coba membuat layanan sms qur’an atau hadits untuk warga secara cuma-cuma dengan menggunakan fasilitas dari Yahoo Messenger.
  • papan majalah dinding. Ini juga sarana tradisional, tetapi tetap cukup efektif, khususnya bagi mereka yang datang ke masjid. Saat ini, telah dibicarakan upaya menata kembali majalah dinding yang ada di masjid, baik dari sisi tampilannya maupun isinya.
  • pengumuman langsung. Ini mungkin sarana paling tradisional, biasa disebut “halo-halo”. Pengumuman langsung melalui pengeras suara masjid, ditujukan khususnya untuk warga komplek. Sangat tradisional dan rupanya warga pun menghormati tradisi, sehingga konon warga sebelum datang ke masjid untuk mengikuti suatu kegiatan, mereka akan “mendengarkan” dulu suara halo-halo ini.
  • seusai shalat. Ini mungkin sarana paling tradisional namun paling barkah. Berkomunikasi langsung di masjid seusai shalat, selain menjalin silaturahim juga memberikan banyak masukan bagi para pengurus. Dalam suasa seusai shalat dan dzikir inilah, majlis seusai shalat ini tetap tidak bisa digantikan oleh media-media lainnya. harapannya majlis ini, bisa lebih sering dan lebih lebar (lebih banyak warga yang ikut terlibat di dalamnya, bukan hanya pengurus DKM saja).

Semua sarana itu, insya Allah akan dioptimalkan oleh DKM untuk berkomunikasi dengan warga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: