Meninggalkan Pelaku Ghibah

Januari 20, 2009

P24-10-08_10.18[1] Seorang teman seringkali merusak kehormatan orang lain dengan ghibah. Sering saya nasehati tapi tidak mempan. Tampaknya ghibah (menggunjing, red) sudah menjadi hobinya. Adakalanya pembicaraannya dilandasi niat baik. Apa boleh saya meninggalkannya?

Menggunjing kehormatan kaum muslimin tentang hal-hal yang tidak mereka sukai bila dibicarakan adalah kemungkaran besar. Hal ini termasuk gunjingan yang diharamkan, bahkan termasuk dosa besar. Berdasar firman Allah SWT:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudang mati, maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Hujurat: 12)

Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian apa itu menggunjing (ghibah)?” Shahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”.

Beliau bersabda, “Yaitu engkau menyebut-nyebut aib saudaramu, padahal ia tidak suka (bila dibicarakan)”.

Ada yang bertanya, “Bagaimana bila yang aku katakan itu memang benar ada pada saudaraku?”

Beliau menjawab, “Jika memang benar bahwa yang kau katakan itu ada padanya, engkau telah menggunjingnya, sementara jika itu tidak ada padanya berarti engkau telah berdusta tentangnya”.

Ada juga hadits shahih lainnya dari Rasulullah SAW: “Ketika aku diperjalankan (pada peristiwa Isra’ Mi’raj) aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku yang terbuat dari kuningan, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka, lalu aku bertanya, “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan sesama manusia”.

Al-Alamah Ibnu Muflih mengatakan, bahwa isnad hadits ini shahih. Abu Daud mengeluarkan riwayat lain dengan isnad hasan, dari Abu Hurairah secara marfu”, “Sesungguhnya diantara riba yang paling buruk adalah membicarakan kehormatan seorang muslim dengan cara yang tidak haq”.

Karena itu, hendaknya anda dan kaum muslimin, tidak bergaul dengan orang yang suka menggunjing sesama muslim. Hendaknya selalu memberikan nasehat dan mengingkari perbuatan tersebut, sesuai sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkinan, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”.

Jika setelah dinasehati ia tidak menerima, tinggalkan saja. Sikap demikian termasuk kesempurnaan pengingkaran terhadap perbuatannya. Semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan menunjukkan mereka kepada kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

(Fatawa Hai’aj Kibar Ulama, syaikh Ibnu Baz, juz II hal 946)

Sumber: majalah Fatawa vol IV/No 12/Dzulhijjah 1429/Desember 2008 hal 22.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: