Tidak Ada Persahabatan Antara Kita dengan Yahudi (3-selesai)

Januari 17, 2009

Bangsa Mesir yang telah memberi kaum Yahudi pelajaran yang tidak akan terlupakan, dan menolak ide normalisasi (tahbi’) hubungan dengan Yahudi, adalah bangsa yang sekarang akan kembali memberi kaum Yahudi itu pelajaran- jika terus menyombongkan diri- bahwa mereka tidak akan makan makanan Yahudi dan tidak akan merusak puasa mereka. Juga tidak akan menghilangkan pahala puasa mereka dengan melakukan kejahatan ini, disaat mereka berdoa, “Hilanglah dahaga, basahlah urat-urat, dan tetaplah pahala dengan kehendak Allah”.

Dengan janjinya tersebut, duta besar Yahudi mengira bahwa ia mampu memanfaatkan kemiskinan sebagian penduduk Mesir untuk mendapatkan simpati mereka. Ia lupa bahwa orang Mesir yang paling miskin lebih “kaya” dibanding para konglomerat Yahudi. Ia lupa bahwa orang Mesir yang termiskin itu akan lari menjauh dari orang yang mendapat laknat dan murka Allah, yang sebagian mereka dikutuk menjadi kera, babi dan hamba-hamba setan.

Lalu kedermawanan macam apa ini, yang tiba-tiba muncul dalam jiwa Yahudi, kemudian mereka memberi makan dan uang kepada orang muslim, padahal mereka adalah makhluk yang paling pelit di muka bumi, sebagaimana firman Allah:

“Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia”. (QS. an-Nisaa: 53)

Kita tidak menginginkan kedermawanan dalam bentuk uang dari Yahudi. Yang kita inginkan dari mereka hanyalah mengembalikan semua yang mereka rampas secara terang-terangan atau secara diam-diam kepada pemiliknya yang resmi.

Saya tidak mengerti, bagaimana para pembunuh tersebut berani meminta fatwa dari syaikh al-Azhar untuk melegitimasi undangan mereka. Saya yakin bahwa syaikh al-Azhar atau orang-orang dibawahnya tidak akan mengabulkan keinginan mereka. Karena, setiap hari kaum Yahudi itu selalu melakukan kejahatan dan maksiat.

Sesungguhnya antra kita dan yahudi hanya ada satu hal, yaitu jihad fi sabilillah, sampai kita mampu mengambil bumi dan kehormatan kita yang telah dirampas. Kemudian memulangkan penduduk Palestina yang mengungsi ke tempat tinggal mereka.

Bulan Ramadhan, dengan segala nostalgia kemenangan ummat Islam di perang Badar dan hari Fathul A’dzam di Makkah, layak memberikan kita harapan di masa yang akan datang.

“Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak menyalahi janjinya, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. ar-Ruum: 4-6)

Sumber: Syaikh Yusuf Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 3 hal 618-619, Gema Insani Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: