Tidak Ada Persahabatan Antara Kita dan Yahudi

Januari 15, 2009

Kami mendengar bahwa kedutaan besar Yahudi di Kairo berniat mengadakan jamuan buka puasa untuk orang-orang miskin selama bulan Ramadhan. Duta besar Yahudi juga berusaha memperoleh fatwa dari komisi fatwa al-Azhar yang membolehkan seorang muslim untuk berbuka puasa dengan biaya dari orang Yahudi. Pertanyaan saya, apakah bisa dibenarkan orang Yahudi mengadakan jamuan buka puasa di bulan Ramadhan? Apakah seorang muslim boleh berbuka dengan hidangan tersebut? Dan apakah pendapat ustadz tentang orang yang mendatangi undangan Yahudi tersebut untuk berbuka bersama dia dalam satu meja makan? (Fawwaz ‘Ajmi).

Ustadz Fawwaz Ajmi yang saya hormati, kullu am wa antum bikhair, taqabballahu minna waminkum. Semoga anda selalu dalam keadaan baik, dan semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Saya telah membaca surat anda, dan saya ingin mengucapkan selamat serta terimakasih atas pehatian anda terhadap permasalahan-permasalahan kontemporer ummat Islam.

Setelah memuji Allah dan mengucapkan shalawat serta salam semoga tetap terhatur kepada RasulNya, maka saya katakan bahwa Islam telah menetapkan aturan dalam berinteraksi dengan orang non muslim, yang terwujud dalam 2 ayat surah al-Mumtahanah. Allah SWT berfirman: “Allah tiada melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawanmu, orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (QS. al-Mumtahanah: 8-9)

Islam tidak melarang kita untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang yang tidak seaqidah dengan kita. Asalkan, mereka tidak memerangi dan tidak mengusir kita dari tempat tinggal kita. Khususnya, jika mereka adalah dari golongan ahli kitab. Islam bahkan membolehkan kita makan makanan mereka dan menikah dengan mereka. Karena, mereka asalnya adalah pemeluk agama samawi, walaupun mereka telah melakukan distorsi dan perubahan-perubahan terhadap ajaran-ajarannya.

Adapun golongan yang tidak seaqidah dengan kita dan Allah melarang kita untuk mengikuti mereka, menaruh belas kasihan, dan mendekati mereka, adalah golongan yang memerangi dan saling membantu untuk mengusir kita dari tempat tinggal kita, karena alasan agama. Inilah yang terjadi saat ini antara kita dengan orang-orang Yahudi secara umum, maupun dengan orang-orang Yahudi yang kini menjajah Palestina secara khusus. Mereka telah membangkang terhadap ajaran Allah dan Rasul, serta memusuhi orang-orang Arab serta orang-orang muslim. Juga memaksakan eksistensi mereka sebagai pendatang asing yang telah merampas bumi orang muslim dengan kekuatan senjata, kekerasan, teror dan darah.

Pertempuran kita dengan Yahudi berlangsung sejak mereka merampas bumi tempat Isra Mi’raj nabi kita, menawab masjidil Aqsha, menumpahkan darah pendudukan Palestina, dan mengusir mereka dari tempat tinggal mereka, hanya karena mereka mengatakan Rabb kami adalah Allah. Orang-orang Yahudi sampai sekarang masih menyombongkan diri dan menggembar-gemborkan tuntutan serta mimpi besar mereka tentang negara Yahudi Raya, yang mereka katakan bahwa ia terbentang dari sungai Nil sampai sungai Eufrat!

Sumber: Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 3 hal 615-617, Gema Insani Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: