Ta’mir Masjid dan Kriteria yang Diharapkan

Januari 9, 2009

p15-11-08_0533DKM al-Amanah tidak menggunakan istilah marbot, untuk mereka yang tinggal di masjid. Pertama, karena secara istilah tidak tepat. Kedua, secara fungsi pun pengurus masjid yang tinggal di masjid tidak bisa disebut marbot. Apa arti istilah marbot itu sendiri? Pengertiannya yang tepat dan baku, wallahu’alam, namun dari beberapa bapak-bapak yang hadir di masjid, dikatakan bahwa marbot berasal dari bahasa Sunda, yang artinya tukang bersih-bersih masjid atau tukang memukul bedug. Dari pengertian ini, marbot jelas bukan yang diharapkan dari pengurus yang tinggal di masjid. Karena itu digunakanlah istilah ta’mir masjid, atau pengurus masjid atau yang berfungai untuk memakmurkan masjid.

Berkait dengan ta’mir masjid ini, DKM al-Amanah memiliki harapan tersendiri, sehingga menetapkan prioritas kualifikasi ta’mir yang diharapkan menempati ruangan ta’mir yang ada di masjid. Kualifikasi itu adalah mereka para pemuda yang sedang menuntut ilmu syariah (mahasiswa) yang memiliki orientasi untuk melanjutkan pendidikannya ke timur tengah. Inilah kualifikasi pertama dan utama untuk ta’mir masjid di masjid al-Amanah.Mengapa kualifikasi mahasiswa yang berniat melanjutkan studinya ke timur tengah menjadi prioritas ta’mir masjid yang diharapkan? Ada beberapa alasan, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Dalam jangka pendek, mahasiswa ilmu syariah bisa membantu di bidang ibadah (menjadi imam shalat, khatib, dll), di bidang ta’lim (mengajar anak-anak, dll).
  • Dalam jangka panjang (4-5 tahun), seusai mereka lulus dari universitas Islam di timur tengah, mereka diharapkan bisa menjadi tenaga pengajar di lembaga pendidikan -insya Allah- yang ada di lingkungan DKM al-Amanah.

Itulah alasan utamanya. Tetapi, kenapa mesti timur tengah? Tentu saja, kami berharap ustadz yang nanti akan mengajari anak-anak kami, adalah para ustadz yang belajar dari para ulama dan dari sumber yang jernih. Bukan mereka yang belajar Islam dari para orientalis yang kafir. Bagaimana mungkin kami mengizinkan anak-anak kami diajari Islam oleh orang yang belajar Islam dari orang kafir dengan metodologi yang juga sesat.

Selain kriteria utama diatas, tentu saja ada faktor-faktor lain yang diharapkan dari ta’mir masjid, seperti keikhlasan mereka. Ini merupakan faktor yang sangat penting, apalagi dengan mengingat berbagai keterbatasan yang ada saat ini. Jika niat mereka tidak ikhlas, sungguh berat untuk bisa bertahan apalagi ikut mendukung program da’wah DKM.

2 Responses to “Ta’mir Masjid dan Kriteria yang Diharapkan”

  1. Rusdianto Says:

    Alhamdulilah blog ini semakin makmur, semakmur masjidnya tentu dengan berbagai aktifitas dakwah, belajar dsb; saya hanya ingin mengomentrai passage berikut:
    “Bukan mereka yang belajar Islam dari para orientalis yang kafir. Bagaimana mungkin kami mengizinkan anak-anak kami diajari Islam oleh orang yang belajar Islam dari orang kafir dengan metodologi yang juga sesat.”

    Saya coba tanya ke ustadz google apa definisi “orientalis” berikut saya satu idea ttg apa itu orientalis (semoga ini sama dgn apa yg dimaksud penulis blog diatas)
    Orientalis, adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat, Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur (bahasa Arab, Persi, Ibrani, Suryani dan lain-lain), temtama mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham-faham yang bathil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah, ajaran dan da’wah Islam merosot,

    kalimat diatas maknanya sangat kuat dan intimidatif dalam artian, kalau bukan dari timur tengah then they are sesat/tidak murni dsb. mungkin perlu ditelaah kembali kalimat tersebut diatas, dengan tidak berandai andai bahwa dibelahaan dunia lainpun banyak sekali ulama/scholar yang mumpuni, dengan tambahan atribut yang baik lainnya. tentu saja pada saatnya mereka terjun di medan dakwah approach nya akan berbeda medan dan org-org / umat yg dihadapinya pun berbeda. anyhow saya jadi teringat surat al ashri ayat pertama : sesunggunhya manusia (insana) ada dlm kerugian .denagn kata khusrn… , bener-bener rugi…….kecuali..yang beriman/amanu doing something to fix, beramal sholeh , dan mengajak kepada kesabaran, aktif sabar bukan yang pasif, all or nothing semua selamat dari kerugian seperti ayat pertama atau nothing, jadi menurut pdpt saya, kalimat diatas intimidatif karena bersebrangan dengan apa yg di muat dlm surat al -ashri…

    Wallahu alam

    RM/CDI-116

  2. alamanah1429 Says:

    Wah, jazakallah khairaan atas komentarnya pak rusdianto. Kumaha daramang di amerika?

    Ada dua hal yang perlu saya komentari dari komentar bapak, yaitu (1) pengertian orientalis-orientalisme dan (2) kalimat “intimidatif” terkait orientasi belajar Islam ke timur tengah.

    Untuk hal (1) nampaknya, pengertian orientalisme kita tidak berbeda, insya Allah. Definisi yang paling mudah saya fahami, adalah yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab: “Orientalisme adalah kajian akademis yang dilakukan bangsa barat yang kafir -khususnya dari kalangan ahli kitab- tentang Islam dan ummat Islam dengan segala aspek, baik mengenai aqidah, syariah, pengetahuan, kebudayaan, sejarah, aturan dan peraturan, hasil bumi dan potensi-potensinya. Tujuannya untuk merusak dan mengotori citra Islam, meniupkan keragu-raguan kepada kaum muslimin akan kebenaran dan kepercayaan mereka terhadap ajarannya, menyesatkan mereka (muslimin) dari jalan yang diharuskan dalam syariatnya. Kemudian dengan berbagai cara diupayakan agar mereka mau mengikuti ajaran dan pemikiran barat. Dalam usahanya itu mereka (kaum orientalis) mencoba dengan tipudayanya untuk mengelabui bahwa semua kajian itu seolah ilmiah dan objektif. Karena mereka merasa akan adanya keunggulan dan kelebihan ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Barat atas bangsa Timur yang Islam”. (Ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq edisi terjemah: Menyingkap Tabir Orientalisme, Dr Ahmad Abdul Hamid Ghurab, pustaka al-Kautsar hal 20-21).

    Dari pengertian diatas, ada beberapa hal yang saya garisbawahi:
    1. orientalis yang kafir
    2. metodologi yang sesat (bukan metodologi ilmiah yang telah dikembangkan para ulama serta mapan dalam ilmu-ilmu islam).
    3. tujuan yang rusak: menebarkan keraguan (tasywib wa tasykik), serta menundukkan ummat Islam dalam ajaran dan teritorinya (penjajahan).
    Dengan demikian, jelas tidak sepantasnya kita mengambil ilmu (islam) dari para orientalis.

    Pada poin ini, saya kira, kita sepakat. Tinggal menjelaskan poin berikutnya, yakni yang bapak sebut kalimat intimidatif.

    (2). Penjelasan saya dalam mengapa harus timur tengah, menurut pak Rusdianto adalah intimidatif, sebab hal ini berarti menafikan keberadaan para ulama, intelektual, lembaga-lembaga Islam yang giat beramal islami, diluar timur tengah. Lebih jauh, disimpulkan, jika bukan timur tengah maka sesat, tidak murni dsb. Apakah demikian yang saya maksud?

    Ada beberapa hal yang harus saya uraikan nampaknya:
    a. Sumber ilmu pengatahuan Islam (ilmu syariah dieniyah), tsaqafah dan peradaban Islam, adalah timur tengah. Demikianlah faktanya, dari dulu, sekarang dan yang akan datang. Bisa kita lihat faktanya:
    – khazanah ilmiah (pustaka) islam sebagian besar -jika tidak dikatakan semuanya- berasal dari timur tengah, baik warisan masa klasik maupun modern ini.
    – para ulama terkemuka yang memiliki integritas (ilmiah dan amaliah) dalam dunia ilmiah islam, berasal dari timur tengah, dari dulu hingga saat ini.
    – hingga saat ini, orientasi studi Islam ( dalam ilmu syariah dieniyah) sebagian besar, jika tidak dikatakan semuanya, ke universitas-universitas Islam di timur tengah.

    b. Poin a diatas, adalah pernyataan umum, tentu saja akan selalu ada perkecualian, misalnya:
    – bisa jadi ada karya ulama yang diakui oleh dunia Islam, yang bukan berasal dari timur tengah. (apa ya contohnya?)
    -bisa jadi ada ulama terkemuka yang bukan berasal dari timur tengah, misalnya Imam al-Bukhari (dari Bukhara, Uni Soviet dulu), imam al-Albani dari Albania dst) tetapi mereka semua adalah “alumnus” timur tengah.
    -bisa jadi, mungkin banyak juga, universitas dan lembaga pendidikan di timur tengah, yang justru menggunakan metode orientalis atau jauh dari metodologi ilmiah yang telah dikembangkan para ulama islam.

    Dengan 2 poin itu, maka saya sama sekali tidak bermaksud menafikan (menegasikan) keberadaan para ulama, intelektual muslim dan lembaga pendidikan Islam diluar timur tengah, apalagi sampai meremehkan amal islami mereka, karena:
    a. Dalam keterbatasan informasi, saya menyadari para ulama pun sangat aktif berda’wah diluar timur tengah, di Eropa dan Amerika misalnya. Setahu saya, syaikh al-Qaradhawi, syaikh al-Buthy sering berkunjung ke wilayah Eropa. Adapula intelektual seperti Prof. Ismail al-Faruqi yang gigih dengan proyek islamisasi sains-nya, Dr. Haifa Jawad yang mengajar di Universitas Birmingham, Dr, Tariq Ramadhan seorang guru besar studi Islam di Oxford University. Dan masih banyak lagi. Tetapi, sejenak perhatikan, siapakah mereka:
    – mereka adalah para da’i timur tengah yang telah menimba ilmu mereka di timur tengah (universitas-universitas Islam)
    – tujuan mereka ke Eropa, AS dan benua lainnya, adalah syiar dan da’wah, salah satunya mengembangkan pendidikan Islam di masyarakat Eropa atau Amerika, dengan metodologi Islam (bukan ala orientalis) dengan sarana dan prasana pendidikan yang modern.

    b. Saya sepakat dengan pak Rusdianto, bahwa dibelahan dunia lain (selain timur tengah) banyak para ulama dan intelektual muslim yang memiliki peran dan kontribusi yang besar bagi perkembangan da’wah Islam, bahkan saya melihat bahwa dalam beberapa hal perkembangan da’wah di benua Eropa dan Amerika memiliki keunggulan dibandingkan dengan negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Tetapi, sekali lagi, hal ini bukan berarti Amerika, Eropa atau benua lainnya, pantas untuk dijadikan orientasi bagi para mahasiswa yang hendak menuntut ilmu syariah dieniyah, dan merubah qiblat mereka dalam mendalami ilmu-ilmu dieniyah.

    Itulah makna kalimat yang dirasa “intimidatif’ oleh pak Rusdianto. Atau saya coba beri contoh “kalimat intimidatif ” lain sebagai ilustrasi:
    – Kalau anda ingin air yang segar dan murni, pergilah ke gunung. Kenapa harus ke gunung? Karena di gunung, masih banyak pepohonan, hutan yang asri dan air yang keluar dari mata air masih murni. Belum ada polusi dari industri dan lain-lain. (Apakah selain di gunung, tidak ada air yang segar dan murni? Atau sebaliknya, apakah mata air di gunung pasti segar dan murni? Di Dieng, mungkin beracun🙂 )
    – Saya ingin belajar teknologi atau arsitek, saya mau kuliah di Bandung. Kenapa harus di Bandung? Karena di Bandung ada ITB, yang telah dikenal luas sebagai universitas terkemuka dalam bidang teknologi. (Apakah berarti selain di Bandung tidak ada universitas yang bagus untuk belajar teknologi atau arsitek?)

    Itu saja dulu, mungkin ini masalah redaksional dimana kosa kata dan gaya bahasa saya yang payah sehingga menimbulkan kesan “intimidatif”. Jika memang demikian, dengan sangat saya mohon maaf… Selebihnya, jangan kapok untuk mengunjungi blog ini, kasih masukan, atau informasi tentang Islam di Amerika… biar kami yang berada di ujung dunia ini melek.

    Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: