Pembagian Warisan dan Batas Waktu Shalat Dhuha

Desember 26, 2008

P12-12-08_15.11 Ustadz, saya ingin bertanya (1) bagaimana hukumnya bila harta warisan dibagi tidak sesuai syariat, tetapi semua ahli waris setuju dan ikhlas? (2) Jam berapakah batas akhir shalat dhuha, dan berapa rakaatkah?

Salah satu firman Allah SWT yang telah menetapkan masalah warisan adalah surat an-Nisa ayat 11. Dalam firmanNya: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan”. Jadi, bagian warisan untuk anak wanita separuh dari bagian anak laki-laki. Lalu bagaimana bila bagian anak wanita disamakan dengan bagian anak laki-laki, dan semua pihak merasa ridha?

Dalam hal ini, kami sarankan berhati-hati dalam memutuskannya. Karena menolak hukum yang sudah ditetapkan Allah dalam al-Quran bisa berakibat kufur akbar atau kufur asghar. Semua larangan Allah seperti zina, riba atau lainnya tidak bisa menjadi halal hanya karena pihak yang bersangkutan sama-sama ridha dan setuju.

Maka, siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah karena merasa enggan dan menolak, sekalipun tidak mengingkari atau mendustakan hukum Allah, maka bisa membatalkan keimanannya yang selama ini ia miliki. Bisa juga mengakibatkan kufur asghar, sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah, “Adapun orang yang komitmen dengan hukum Allah dan RasulNya secara lahir dan batin tapi ia berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia seperti pelaku maksiat lainnya”.

Lain halnya, bila semua urusan warisan sudah dibagikan sesuai dengan keputusan syar’i, termasuk dibedakannya bagian anak laki-laki dan bagian anak wanita. Lalu anak yang laki-laki memberikan bagian dari hartanya pada yang ia kehendaki, karena tujuan tertentu.

Mengenai shalat dhuha, waktunya dari semenjak muncul matahari setinggi satu tombak sampai tergelincirnya matahari. Waktu yang paling utama dilaksanakan pada seperempat hari. Jumlah minimal shalat dhuha adalah dua rakaat, dan paling banyak delapan rakaat. Bila lebih dari delapan rakaat dengan sengaja, dan mengetahui rakaat dhuha, niatnya pun shalat dhuha, maka rakaat yang melebihi delapan tidak dihitung. Tapi bila ia lupa, atau tidak tahu akan jumlah shalat dhuha, maka dihitung sebagai shalat sunnah mutlak menurut asy-Syafi’iyyah dan Hanabilah. Wallahu’alam.

Lihat Madariju Salikin 1/337, Minhaju Sunnah 5/131, Kitabul Fiqh ala Madzahib Arba’ah 1/301.

Sumber: majalah ar-Risalah no 68/Th VI Muharam-Safar 1428/2007 hal 30.

About these ads

One Response to “Pembagian Warisan dan Batas Waktu Shalat Dhuha”

  1. tubir Says:

    terimakasih ats informasinya.
    tetapi saya masih bingung. batas waktunya diatas kepala itu sekitar jam berapa>? terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: