Dzikir dengan Asmaul Husna

Desember 26, 2008

P12-12-08_15.11[1] Ustadz saya bertanya, bagaimana cara kita mengamalkan asmaul husna, apakah boleh berdzikir semalaman sampai rubuan kali dengan asmaul husna? Dan apakah dzikir menggunakan asmaul husna ada dasarnya dari hadits shahih atau ijma yang kuat?

Mengamalkan asmaul husna tentu setelah kita meyakininya dengan menetapkan sebagaimana Allah dan RasulNya tetapkan, tanpa ada takyif (bertanya bagaimana), ta’thil (penolakan), tahrif (penyelewengan) dan tanpa tasybih (penyerupaan). Nabi SAW bersabda: “Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, barangsiapa menjaganya maka akan masuk jannah”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam memahami arti menjaga (ahsha) di dalam hadits diatas, tidak bisa difahami hanya dengan menyebutnya atau melafadzkannya saja. Tetapi memiliki tiga arti sebagaimana pendapat al-Khithabi. Pertama, berdo’a dengan menggunakan semua nama Allah, tidak membenci pada sebagian namaNya, sehingga mendapat semua pahala yang dijanjikan. Kedua, mengamalkan hak dan tuntutan dari asmaul husna. Bila ia mengatakan arrazzaq (maha pemberi rezeki), maka ia akan menggantungkan semua rezekinya pada Allah. Ketiga, mengetahui semua makna dari asmaul husna.

Jadi, arti hadits diatas adalah mengetahui lalu diamalkannya dalam ibadah. Sebagaimana al-Qur’an tidak akan bermanfaat hafal lafadznya bila tidak mau mengamalkannya. Bahkan mereka yang keluar dari din ini (Islam), diantaranya karena mereka membaca al-Quran hanya sampai tenggorokannya saja tidak dibuktikan dalam perbuatannya.

Asmaul husna juga boleh digunakan untuk bertawassul kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Allah memiliki nama-nama yang baik, maka panggillah Allah dengan nama-nama tersebut”. (QS. al-Araf: 180)

Adapun berdzikir semalam sampai ribuan kali jelas tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW. Pelakunya telah terjebak dalam lingkaran bid’ah, ia pun merasa telah ibadah sepenuh hati. Ia tidak tahu pengamalan asmaul husna tidak hanya sebatas dilafadzkan, tapi juga diamalkan dalam keseharian kita, bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Tahu atas segala perbuatan hambaNya. Wallahu’alam.

Lihat: Ma’arijul Qabul 1/125, al-Qawa’id al-Mutsla fi Sifatillah wa Asmaul Husna 18).

Sumber: majalah ar-Risalah no 68/Th VI/Muharam-Shafar 1428H/Februari 2007 hal 29.

Technorati Tags: ,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: