Perpecahan dan Fanatisme Kelompok

Desember 15, 2008

P08-12-08_06.54 Bagaimanakah arahan anda terkait adanya fenomena perpecahan dan fanatisme kelompok yang muncul dari sebagian kaum muslimin?

Syaikh Utsaimin menjawab: Tidak ragu bahwa fanatisme kelompok dan berpecah belah di dalam beragama adalah terlarang dan harus dihindari. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Ali Imran 3: 105)

Ummat Islam tidak boleh berpecah-belah dan berkelompok-kelompok, yang mana setiap kelompok memilih manhaj yang berbeda. Kaum muslimin wajib bersatu di dalam agama Allah diatas manhaj yang satu yaitu mengikuti petunjuk Nabi SAW, para khulafaur rasyidin dan para shahabat Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaknya kalian menetapi sunnahku dan sunnah para al-khulafaur rasyidun yang mendapatkan petunjuk setelahku”. (Riwayat Ahmad)

Nabi dan para shahabat tidak pernah mengajarkan agar ummat ini saling berpecah dan berkelompok-kelompok, yang mana setiap kelompok memiliki tokoh dan manhaj tersendiri.

Nasehatku kepada ummat, hendaknya mereka bersatu diatas agama Allah dan jangan bercerai-berai. Jika mereka mendapati seseorang atau suatu kelompok cenderung kepada perpecahan, hendaklah dinasihati, dijelaskan kebenaran kepadanya, dan diingatkan agar tidak menyelisihi kebenaran.

Perlu dijelaskan pula bahwa bersatu diatas kebenaran lebih mendekati kepada kebenaran dan keberuntungan daripada berpecah belah. Jika sebuah perselisihan timbul dari permasalahan yang memang diberikan keluasaan untuk berbeda, maka seharusnya hati tidak sampai berpecah-belah dan berselisih. Para shahabat pun telah berselisih dalam perkara-perkara ijtihadiyah sejak Nabi masih hidup hingga setelah wafatnya, namun hati mereka tidaklah berselisih dan bercerai. Hendaklah mereka dijadikan sebagai suri teladan, karena akhir ummat ini tidaklah bisa menjadi baik kecuali dengan mencontoh sepak terjang generasi awalnya, karena merekalah generasi terbaik.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dalam segala perkara yang dicinta dan diridhai.

Sumber: majalah Fatawa vol IV/No 11/Dzulqa’dah 1429/Nopember 2008 hal 16.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: