Sembelih Ayam Hanya Saluran Makannya Saja

Desember 9, 2008

p08-12-08_10363Ustadz, ibu saya menyembelih ayam, tetapi ketika saya tengok, hanya saluran makan (kerongkongan) saja yang putus. Sedang saluran nafasnya (tenggorokan) tidak. Bagaimana hukumnya, halalkah daging ayam itu dimakan?

Ketika sahabat Rafi’ bin Khadij ra bertanya tentang hewan sembelihan ketika tidak ada pisau, Rasul SAW bersabda:

“Dengan (benda tajam) yang mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah padanya maka makanlah! Bukan dengan gigi dan kuku, adapun gigi karena ia dari tulang dan kuku karena ia pisau orang Habasyah (menyerupai orang kafir)”. (HR Muttafaqun Alaih)

Jelas hadits itu mensyaratkan dalam penyembelihan hewan dengan pemotongan dan mengalirnya darah, sehingga para ulama menyimpulkan bahwa dalam penyembelihan hewan, mesti ada 4 saluran yang harus putus, yaitu: saluran nafas (al-hulqum), saluran makan (al-marii’), dan dua saluran darah (al-wadajaani). Bila ke-4 saluran ini putus atau kebanyakan saluran putus maka sembelihannya halal. Sampai disini para ulama semuanya sepakat.

Lalu para ulama berselisih pendapat bila salah satunya tidak putus. Menurut madzhab Syafii dan madzhab Hanbali, bila saluran nafas dan saluran makanan telah putus maka halal sembelihannya karena maksud penyembelihan adalah meniadakan status hidup yang biasanya hewan tidak akan hidup bila dua saluran tersebut sudah putus. Menurut Hanafi, bila tiga saluran -tidak ditentukan- dari ke-4 saluran tersebut putus maka sudah halal karena sebagian besar saluran sudah putus. Menurut Abu Yusuf, tidak menjadi sah kecuali setelah terputus saluran nafas, saluran makanan dan salah satu saluran darah. Dan menurut Maliki, bila terputus saluran nafas dan salah satu dari saluran darah, maka menjadi halal.

Jadi jelas, jika terputus hanya saluran makanan saja maka penyembelihannya menjadi tidak sah dan tidak halal untuk dimakan. Para ulama hanya memperselisihkan bila salah satunya tidak putus, adapun bila yang putus hanya satu saluran saja jelas tidak memenuhi syarat sembelihan. Wallahu’alam. (Lihat: Subulus Salam 6/294, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 2/7440)

Sumber: majalah ar-Risalah no 89/Vol VIII/5 Dzulqadah 1429/ Nopember 2008 hal 29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: