Sisi Ekonomis Dakwah

Desember 1, 2008

mumpung masih "sepi", tata-lah...

mumpung masih "sepi", tata-lah...

Dalam pandangan para visioner, pandangan mereka senantiasa melampaui keadaan dan waktu saat ini. Mereka melihat masa depan, membayangkan bertahun-tahun yang ada di depan. Mereka bukan para peramal, orang abnormal (paranormal), apalagi dukun… tetapi, mereka membayangkan masa depan (visualisasi) sesuai dengan cita-cita yang hendak diwujudkannya. Gambaran (visi) itu begitu jelas, seolah hidup di pelupuk matanya, sehingga mereka bisa menceritakan secara gamblang dan detail, apa yang dilihatnya. Dalam kepemimpinan, itulah visi. Mereka adalah kaum visioner, sekalipun langkah mereka kini tertatih-tatih, namun mereka sedang menuju masa depannya dan melangkah mewujudkan cita-citany. Dalam pandangan orang awam, mereka sering disebut para pemimpi, pengkhayal.

Nah, di sebagian warga yang seringkali hadir di masjid, diantara mereka, memiliki visi tentang keadaan masjid dan lingkungannya di masa yang akan datang. Sekalipun pilot project program tahfidz untuk anak-anak saja masih diwacanakan dan disusun programnya, tetapi seorang visioner sudah bicara masalah SD, SMP, SMA dan lembaga pendidikan al-Amanah lainnya. Tatkala menghadiri undangan warga yang akan berangkat haji, mereka telah berbicara bagaimana jika al-Amanah mampu memberangkatkan dan membimbing warganya untuk naik haji. Demikian pula ketika mereka melihat hamparan tanah kosong disekeliling masjid yang ditumbuhi rerumputan, mereka dengan santainya menceritakan disana akan ada klinik pengobatan sosial, bangunan komplek pendidikan dan gedung-gedung bisnis.

Itu adalah sisi optimisme dari para visioner, namun adapula sisi lain yang perlu diwaspadai dalam dunia dakwah, yakni sisi ekonomis. Sisi ini memiliki dua mata yang sangat tajam. Mata pertama, ketika ia menjadi kendala dan segala pusat hambatan, dimana orang memandang bahwa hanya dengan modal dan harta yang melimpahlah kegiatan dakwah baru bisa berjalan. Ketika harta tidak ada, uang tidak mencukupi, modal tidak kunjung datang, semua itu telah cukup alasan bagi dirinya untuk tidak melangkah dan berkembang. Sisi lain yang tidak kalah tajam dan membinasakan, ialah ketika kegiatan ekonomi justru mulai bergerak seiiring dengan gerak da’wah. Ketika kegiatan pendidikan berjalan dan membuka peluang datangnya uang, ketika keramaian masjid mulai membuka kesempatan berdagang, ketika bimbingan haji mulai mengalirkan rupiah, ketika pundi-pundi LAZ mulai melimpah, disanalah “fitnah” yang sesungguhnya akan dialami oleh para pengurus.

Ketika sisi ekonomi mulai bicara, hal ini akan menyingkap niat kita. Benarkah kita ikhlas? ataukah semua yang sedang kita usahakan saat ini adalah dihitung sebagai “modal investasi” yang mesti kembali berikut sejumlah keuntungan yang diproyeksikan. Ketika sisi ekonomi mulai menjadi pertimbangan, nilai da’wah dan juga ukhuwah mulai mengalami masalah. Ini bukanlah masalah yang aneh, sangat mungkin terjadi. Bukankah Allah SWT memperingatkan dengan keras dalam kalimatNya: “Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan”. Kebinasaan yang dimaksud, sebagaimana disampaikan ahli tafsir, ialah meninggalkan dakwah, jihad dan infaq fi sabilillah… untuk memfokuskan diri pada sisi ekonomi dakwah.

Karena itu, mumpung masjid masih “sepi”, mumpung masjid masih serba “kekurangan’ dana, mumpung keikhlasan belum mengalami hambatan yang berarti, maka sudah saatnya para pengurus DKM, LAZ dan aktifis masjid lainnya untuk mulai menata asas-asas lembaga yang kokoh: administrasi yang rapi, visi lembaga yang sama, dan tugas pokok yang jelas. Semua aturan kelembagaan itu disusun, bukan karena munculnya ketidakpercayaan, tetapi justru untuk menjaga dan melindungi kepercayaan yang telah ada. Sehingga tatkala kaki kita melangkah ke masjid, waktu dan tenaga kita luangkan untuk memakmurkan masjid, tetap terpelihara dalam niat yang ikhlas dan amal yang bernilai ibadah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: