Tanya Jawab Ringkas ke-1 (10 Pertanyaan)

November 26, 2008

p17-11-08_054111Mulai saat ini (26/11), insya Allah akan dipostingkan kategori baru, yaitu tanya jawab ringkas. Materi tanya jawab ini ditranskrip dari taklim subuh yang rutin diadakan setiap hari. Sebagai narasumber (murajaah) adalah ustadz Saiful Aziz, Lc.
Setiap posting disajikan 10 pertanyaan, dengan tema yang sangat beragam dan ditampilkan dengan sangat ringkas, sehingga ini mudah-mudahan bisa membantu warga dan kaum muslimin, secara cepat untuk mengetahui suatu permasalahan ditinjau dari sisi syari’ah (Islam). Tentu saja, karena ringkas ini bukanlah jawaban tuntas, namun diharapkan menjadi pemicu untuk mengkaji lebih lanjut atas permasalahan yang ditanyakan.
Ustadz Saiful Aziz,Lc sendiri adalah alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, dan saat ini selain sebagai Dewan Syariah DKM al-Amanah juga menjadi dosen di Ma’had al-Immarat Bandung. Dalam banyak hal, beliau seringkali merujuk kepada fatwa syaikh Abdulaziz bin Abdullah bin Baz dalam Majmu’ Fatawa-nya. Namun hal itu bukanlah sebuah keharusan mutlak, tidak jarang pula ustadz Saif menyampaikan pendapat dan fatwa para ulama lainnya, baik ulama salaf maupun ulama kontemporer.

Selamat menyimak, mudah-mudahan bermanfaat untuk menuntun kita dalam beramal…

1. TAFSIR SELIMUT AYAT 1 SURAT AL-MUZZAMIL.

Tanya: Seorang kyai mengatakan bahwa yang dimaksud al-muzzamil (berselimut) pada surat al-muzzamil adalah simbol dari ketidakpedulian dan egoisme, apakah benar?

Jawab: Saya tidak tahu. Siapa ahli tafsir (mufassir) maupun dalam kitab tafsir apa ada yang menafsirkan demikian. Wallahu’alam.

2. HUKUM BUNGA BANK DI BANK KONVENSIONAL

Tanya: Ustadz benarkah bunga di Bank konvensional tidak termasuk riba? Sehingga hukumnya tidak haram, boleh.

Jawab: Seluruh ulama dan ahli fatwa di seluruh dunia, menfatwakan bunga bank itu riba, dan haram hukumnya. Majlis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan fatwa tentang masalah ini.

3. MAKNA MENAKAR KEBENARAN DENGAN QUR’AN DAN SUNNAH

Tanya: Bagaimana kita menakar kebenaran dengan al-Qur’an dan as-Sunnah padahal kelompok sesat pun mereka tidak sungkan-sungkan menyitir ayat dan hadits?

Menakar kebenaran dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman generasi yang dijamin oleh Allah SWT dan RasulNya akan kebenaran mereka, yaitu generasi salafus shalih yang terdiri dari para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah merekalah yang harus dijadikan rujukan, sebab merekalah generasi yang paling faham tentang kedua petunjuk itu, dan dijamin oleh Allah dan RasulNya. Adapun memahami al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa merujuk kepada pemahaman salafus shalih, sangat besar kemungkinannya untuk tersesat. Wallahu’alam.

4. HUKUM SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Tanya: Apa hukumnya shalat berjamaah di masjid?

Jawab: Para ulama dan madzhab empat yang mashur (Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah) menyepakati wajibnya shalat berjamaah untuk shalat rawatib di masjid bagi kaum laki-laki. Demikian pula pendapat para ulama dan para ahli fatwa mutaakhirin (sekarang).

5. HUKUM SHALAT RAWATIB DI RUMAH BAGI LAKI-LAKI

Tanya: Apakah sah seorang laki-laki shalat rawatib di masjid?

Jawab: Pendapat yang moderat dalam masalah ini adalah pendapat syaikh al-Hilali dalam syarah riyadhus shalihin, menyatakan boleh tetapi berdosa. Maksudnya, shalatnya sah namun ia bedosa karena meninggalkan kewajiban berjamaah di masjid. Wallahu’alam.

6. ORANG SAKIT WAJIBKAH BERJAMAAH?

Tanya: Bagaimana jika seorang laki-laki sakit, apakah shalat rawatibnya tetap diwajibkan harus berjamah di masjid?

Jawab: Orang yang sakit memiliki keringanan (rukhsah). Jika ia tidak mampu datang ke masjid, ia boleh shalat di rumah, sambil berdiri bila mampu, bila tidak mampu sambil duduk, berbaring dan seterusnya. Ia pun boleh menjama shalatnya.

7. SHALAT JUMAT DI AULA

Tanya: Bolehkah kita shalat Jumat di aula suatu kantor yang didalamnya diadakan shalat Jumat?

Jawab: Shalat Jumat wajib dilaksanakan di al-Jami’ (atau masjid jami’), yakni masjid yang didalamnya memang senantiasa dilaksanakan shalat rawatib. Apabila aula itu digunakan untuk shalat, dimana di dalamnya shalat rawatib diadakan, maka boleh shalat Jumat diadakan. Namun apabila aula itu hanya digunakan khusus untuk shalat Jumat saja, tetapi pada hari lainnya shalat rawatib tidak ada, maka tidak boleh diadakan shalat Jumat di tempat itu. Sebaiknya carilah masjid jami’, insya Allah tidak sulit.

8. SHALAT JUMAT BAGI MUSAFIR

Tanya: Apakah musafir wajib shalat Jumat?

Jawab: Seorang musafir diberi keringanan (rukhsah) oleh Allah SWT. Ia tidak wajib ikut shalat Jumat, tetapi jika menghendaki, ia pun boleh mengikutinya.

9. MENJAMA SHALAT JUMAT DAN ASHAR BAGI MUSAFIR

Tanya: Bolehkah seorang musafir setelah ikut shalat Jumat kemudian ia menjama qashar dengan shalat ashar?

Jawab: Apabila musafir mengikuti shalat Jumat, maka ia shalat ashar sebagaimana biasa, 4 rakaat pada waktunya. Tidak dijama, tidak diqashar. Namun, jika ia memilih untuk shalat dzuhur, ia boleh menjama qashar dengan shalat Ashar. Wallahu’alam.

10. CUKUP SHALAT DZUHUR BAGI MUSAFIR?

Tanya: Jika tidak ikut shalat Jumat, apakah musafir cukup shalat dzuhur saja?

Jawab: Ya, cukup shalat dzuhur dan boleh menjama qashar dengan shalat ashar. Itu adalah rukhsah bagi musafir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: