Nifas Bagi yang Keguguran

November 17, 2008

"lampu tempel" al-amanah, 2008

"lampu tempel" al-amanah, 2008

Seorang wanita baru saja hamil, tertimpa musibah sehingga keguguran setelah mengalami pendarahan hebat. Apakah dia boleh membatalkan puasanya ataukah melanjutkan puasanya? Apakah ia berdosa jika membatalkan puasanya?
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab: Kami katakan, orang hamil itu tidak haidh sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ahmad, “wanita hamil itu diketahui dengan terhentinya haidh”. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli ilmu, haidh diciptakan oleh Allah SWT untuk memberikan makan kepada janin dalam perut ibu. Jika sudah terjadi kehamilan, maka haidh itu terhenti. Akan tetapi, terkadang sebagian wanita ada yang masih haidh sebagaimana kebiasaannya sebelum hamil.
Haidh seperti ini dihukumi haidh yang sebenarnya, karena haidnya masih berlangsung dan tidak terpengaruh dengan kehamilan. Dengan demikian, haidh ini menjadi penghalang dari semua hal yang terlarang dengan sebab haidh orang yang tidak hamil, menjadi penyebab dari yang disebabkan haidh, menjadi penggugur bagi yang digugurkan haidh.
Kesimpulannya, darah yang keluar dari wanita ada dua macam: Pertama, darah yang dihukumi darah haidh yang masih berlangsung, sebagaimana ketika belum hamil. Siklus haidh yang tidak terhenti ini menunjukkan bahwa kehamilan tidak berpengaruh padanya, sehingga dia tetap utuh. Kedua, pendarahan baru yang menimpa wanita hamil, mungkin karena suatu kecelakaan, membawa sesuatu, jatuh, atau sebab lainnya. Darah ini bukan darah haidh. Itu hanya darah penyakit saja.
Berdasarkan penjelasan ini, maka ia tidak terhalangi dari shalat, puasa. Dia tetap dalam keadaan suci. Akan tetapi, jika diyakini kecelakaan itu menjadi penyebab keguguran atau lahirnya anak, maka sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu, jika bayi itu lahir dan sudah berbentuk manusia, maka darah yang keluar setelah itu dianggap darah nifas, tidak boleh shalat, puasa dan dijauhi oleh suami. Jika janinnya keluar dan belum berbentuk, maka darah yang keluar setelah itu tidak dianggap darah nifas, namun itu merupakan darah rusak yang tidak menghalangi dari shalat, puasa dan ibadah lainnya.
Waktu tersingkat nampak sebagai wujud manusia yaitu delapan puluh satu hari, karena janin dalam perut sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah SAW memberitahukan kepada kami dan beliau SAW adalah orang yang benar dan dibenarkan:
Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) seperti itu pula, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula, kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagianya. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Bad’il Khalq, bab Dzikril Malaikat no 3208, Imam Muslim dalam Kitabul Qadr bab Kaifiyatul Khalqil Adam fi Bathni Ummihi wa Kitabati Rizqihi wa Ajalihi wa Syaqawatihi wa Sa’adatihi).
Oleh karena itu tidak mungkin terbentuk sebelum itu, biasanya bentuknya tidak jelas sebelum sembilan puluh hari, sebagaimana yang dikatakan sebagian ahli ilmu. (Fatawa fi Ahkamish Shiyam, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal 257-258).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: