Tarjih Hukum Berqurban

November 14, 2008

dscf73591Adapun pendapat yang kuat dalam hukum berqurban, wallahu’alam, adalah pendapat yang kedua yaitu berqurban hukumnya wajib bagi yang mampu saja, karena dalil pendapat ini lebih kuat dibandingkan dengan pendapat yang pertama, ditambah lagi beberapa hal yang menguatkan pendapat mereka, diantaranya:
Sebuah hadits dari jalan Mihknaf bin Sulaim, beliau mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar Nabi SAW bersabda: “Wahai manusia (ketahuilah) bahwa wajib atas setiap keluarga berqurban setiap tahunnya”. (HR Ibnu Majah 2/200, Tirmidzi 1555, Abu Daud 2771, Nasa’i 7/167. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah 2533).
perintah Nabi SAW kepada orang yang menyembelih qurban sebelum shalat Idul Adha untuk mengulangi, menunjukkan bahwa hal itu wajib, seandainya hal itu tidak wajib, maka tidak harus sesuatu itu diulang lagi sebagaimana dalam sabdanya:
Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa menyembelih qurbannya sebelum shalat Idul Adha, maka hendaklah dia mengulang lagi sebagai gantinya, dan barangsiapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih dengan menyebut bismillah. (HR Bukhari 5562, dan Muslim 1976).
Allah Ta’ala mengiringkan perintah shalat dengan perintah menyembelih, dan asal hukum perintah adalah wajib selama tidak ada dalil lain yang memalingkan kepada hukum lain, dan kita tidak menjumpai dalil lain yang memalingkan asal hukum ini, seperti dalam firmanNya:
Maka shalat dan berqurbanlah hanya kepada Rabbmu. (QS. al-Kautsar 102: 2)
Rasulullah tinggal di Madinah selama sepuluh tahun tidak pernah meninggalkan syariat qurban (Dr. Abdurrahman ad-Dahsy dalam Syarh kitab Umdatul Ahkam bab al-Adhahi). Ini isyarat bahwa qurban adalah wajib, seandainya qurban tidak wajib, maka pasti Rasulullah akan meninggalkannya sesekali (seperti yang ia lakukan dalam shalat tarawih) supaya manusia tidak menganggap wajib atau Rasulullah menerangkan kepada manusia bahwa qurban tidak wajib, tetapi semua itu tidak dilakukan Nabi SAW.
Adapun hadits yang menerangkan bahwa Nabi SAW diperintahkan menyembelih qurban tetapi tidak diwajibkan atas kaum muslimin, maka hadits ini dhaif (lemah). Hadits itu adalah:
Aku diperintahkan untuk berqurban tetapi tidak diwajibkan atas kalian. (HR Abu Daud 2/62, Nasa’i 7/212, dari jalan Abdullah bin Amr. Didhaifkan al-Albani dalam Shahih wa Dhaif al-Jami 1263).
Kelemahan hadits ini disebabkan adanya seorang perawi yang tertuduh berdusta, bahkan ada perawi yang lain yang sangat lemah, sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan dalil. (Lihat perkataan ini oleh Siddiq Hasan Khan dalam ar-Raudhah an-Nadiyah kitab al-Udhiyah bab Hukmul Udhiyah bagian akhir).

Sumber: majalah al-Furqon edisi 4 tahun ke-7/Dzul Qadah 1428/Nov-Des 2007 hal 35-36.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: