Kalau silaturahim antar warga sudah sangat erat, sulit untuk bisa keluar dari lingkungan warga. Selain diperlukan niat yang superkuat dan bakat yang mumpuni… bakating kubutuh, juga harus tabah menghadapi persekongkolan warga yang tidak akan rela begitu saja melepaskan anda, melenggang ringan meninggalkan lingkungan anda. Ini bukan kisah sinetron, tetapi kisah nyata sebagaimana yang dituturkan oleh para korban sekaligus pelaku persekongkolan.
“Memang rizki saya disini rupanya…” begitulah kalimat pasrah dari bapak Sis, warga CD 3. Kalimat pasrah ini, menutup kisah tragis kegagalannya untuk melarikan diri dari CD 3. Beragam alasan, latar belakang dan pertimbangan telah dipikirkannya sehingga kemudian bapak wong jawa ini memutuskan untuk pindah dari CD 3. Dimulai dengan alasan kepindahan tempat kerjanya, namun alasannya kurang kokoh. Lalu didorong niat yang luhur dari isterinya untuk pindah, maka suami teladan inipun manut. Ia pun menjajaki berbagai perumahan untuk menjadi tanah airnya yang baru. Pilihan jatuh ke komplek disekitar buah batu. Cukup elit dan di kota, akses ke jalan tol sangat dekat. Eh, ndilalah… sepulang dari pengajian, isterinya malah meminta suaminya untuk membatalkan rencana pindahnya. Alasannya, ia betah tinggal di CD3.

Amanah bagaikan sebuah beban yang sangat berat. Bapak Eko yang tongkrongannya gagah perkasa hampir mundur dari bendahara DKM. Berat pak memegang uang, apalagi ini uang masjid (DKM), begitu alasannya. Alasan itu, langsung ditolak mentah-mentah oleh ketua DKM. Alhamdulillah, beliau tidak melakukan demo atau mogok makan, sehingga badannya tetap kokoh dan besar.
Konon, pada masa awal berdirinya kerajaan Rancamanyar, pak Roni merupakan salah satu warga yang sangat aktif. Di jajaran kepengurusan RT, bersama bapak Adang, ia merupakan duet maut. Kiprah mereka di kancah pemerintahan RT, bagaikan duet Riki dan Rexi di dunia badminton, ga ada tandingan lah. Tidak hanya di tingkat RT, lelaki yang sangat murah senyum ini pun acapkali malang melintang di tingkat RW. Berbagai ide dan gagasannya mengalir melalui rapat-rapat, baik formal maupun informal.
“Ia malah antusias untuk membantu panitia qurban, pak!” begitulah kata pak Makin saat diskusi pembentukan susunan panitia, melalui YM. Jawaban itu adalah pertanyaan tercantumnya nama Drs. Dedi Hermawan disusunan kepanitiaan qurban sebagai ketua bidang pendistribusian. Dan pak Makin benar, saat bicara langsung dengan pak Dedi, antusiasmenya memang tidak bisa disembunyikan, “Dalam posisi apapun saya siap bantu pak Makin lah, agar qurban sukses!”





Komentar Terakhir