dscf7381Takbir pada Idul Adha dimulai seusai shalat fajar (shubuh) dihari Arafah sampai ba’da Ashar di hari akhir tasyriq, yaitu bertakbir setelah shalat Ashar kemudian berhenti (tidak bertakbir lagi).

Takbir pada Idul Adha ini ada dua macam, yakni takbir mutlaq dan takbir muqayyad. Takbir yang muqayyad dilakukan setelah shalat lima waktu, sedangkan takbir yang mutlaq dilakukan di setiap keadaan (waktu kapan saja). Baca entri selengkapnya »

dscf7351Adab-adab menyembelih binatang qurban ini diringkas dari Talkhish kitab Ahkam udhhiyah wa adh-Dhakah hal 45-46 dan referensi pentingnya lainnya. Adapu adab-adab menyembelih binatang qurban adalah sebagai berikut:

  1. Hendaknya binatang qurban dihadapkan ke qiblat, dikarenakan qiblat adalah arah yang paling mulia. Demikianlah yang dikatakan jumhur ulama, seperti yang dikatakan oleh Imam Hanafi, Imam Syafi’i (keduanya dalam kitab Fiqih ala al-Madzahib al-Arba’ah 1/625-626), Shiddiq Hasan Khan dalam Fathul Allam 4/1553, Imam Shan’ani dalam Subulus Salam 7/398, Ibnu Utsaimin dalam Talkish kitab Ahkam al-Udhhiyah wa adh-Dhakah hal 45, Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam al-Mulakhash al-Fiqh 2/470, Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam Minhajul Muslim hal 341 dan selainnya. Adapun hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah yang menerangkan bahwa Nabi SAW ketika menyembelih dan menghadapkan qurbannya ke qiblat kemudian membaca ayat “Aku hadapakan wajahku…” (wajjahtu wajhiya…) maka hadits ini dhaif (lemah) dikarenakan ada perawi yang bernama Ismail bin Iyas, dia adalah perawi yang lemah (Lihat Subulus Salam al-Mushilah ila Bulughil Maram Tahqiq Muhammad Shubhi Hasan Hallaq 7/398).
  2. Apabila yang disembelih adalah unta, maka disunnahkan unta tersebut disembelih dalam keadaan berdiri, sebagaimana dalam sebuah hadits: “Dari Ibnu Umar (berkata) bahwasanya dia datang kepada orang yang sedang membaringkan untanya untuk disembelih, maka dia berkata: “Biarkan unta itu (disembelih) berdiri dalam keadaan diikat, ini adalah sunnah nabi SAW”. (HR Bukhari 1/430 dan Muslim 4/89).
  3. Baca entri selengkapnya »

qurban1428-6Berikut adalah beberapa syarat yang harus dipenuhi agar penyembelihan binatang qur’ban sah. Syarah sah tersebut ialah:

  1. Hendaknya seorang yang menyembelih berakal dan usianya sudah mencapai tamyiz, sedangkan sembelihan anak yang belum tamyiz atau orang gila tidak sah. Hal ini didasari oleh keharusan adanya niat dalam menyembelih, oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “Amalan itu tergantung dari niatnya”. (HR Bukhari 1 dan Muslim 155).
  2. Hendaknya penyembelih adalah seorang muslim atau ahli kitab, baik laki-laki atau perempuan, apabila penyembelihnya selain yang disebutkan maka sembelihannya tidak sah, sebagaimana firmanNya: “Dan makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab halal untukmu dan makananmu halal untuk mereka”. (QS al-Ana’am 5: 5). Imam Bukhari berkata, “Ibnu Abbas berkata bahwa yang disebut makanan dalam ayat ini adalah sembelihan”. (Dinukil dari ar-Raudh al-Murbi’ syarh Zad al-Mustaqni hal 689 cet Dar al-Muayyad 1422 H).
  3. Baca entri selengkapnya »

dscf7373Sudah menjadi ketentuan syariat bahwa daging qurban tidak boleh dijual oleh pemiliknya, akan tetapi diperintahkan untuk membagikannya kepada manusia atau memanfaatkannya sendiri, sebagaimana perintah syariat dalam pembagian daging qurban yang telah lalu. Oleh karena itu, tatkala Ali bin Abi Thalib ra menyembelih binatang qurban, Rasulullah SAW memerintahkan kepada beliau untuk membagikan daging, kulit dan semua perlengkapan binatangnya, sebagaimana dalam sebuah hadits:
Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk mengurusi qurbannya, dan supaya aku membagi semua perlengkapan unta, serta kulit-kulitnya dan aku dilarang memberi tukang sembelihnya upah diambil dari (daging) qurban, sehingga kami mengupahnya dengan (harta) dari kami sendiri (bukan dari daging qurban)”. (HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah 3099). Baca entri selengkapnya »

dscf73591Demikian juga boleh bagi orang yang berqurban untuk menyimpan sebagian daging qurbannya walaupun lebih dari tiga hari. Adapun larangan menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari maka hukum tersebut telah dihapus oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam sabdanya:
Dari Salamah bin Akwa berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menyembelih qurbannya, maka jangan sampai tersisa (dagingnya) di pagi hari ketiga di rumahnya sedikitpun”. Maka tatkala datang tahun berikutnya, manusia bertanya, “Ya Rasulullah SAW, apakah kita lakukan (tentang daging qurban) seperti tahun kemarin?”. Baca entri selengkapnya »

Pembagian Daging Qurban

Desember 2, 2008

dscf7384Disunnahkan setelah menyembelih membagikan sebagian dagingnya kepada manusia, dan orang yang berqurban disunnahkan juga untuk makan sebagiannya, dengan perincian pembagian sebagai berikut:

  1. Dimakan pemilik binatang (qurban) beserta keluarganya. Bagi orang yang berqurban disyari’atkan untuk makan sebagian daging binatang qurbannya. Hal ini berdasarkan perintah Allah SWT dalam al-Qur’an: “Maka makanlah sebagian (dagingnya) dan berilah makan orang yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta-minta”. (QS. al-Hajj 22: 36). Sebagian ulama berpendapat bahwa pemilik binatang qurban wajib makan sebagian daging qurbannya dengan dasar dhahir ayat diatas yang berbentuk perintah, dan asal hukum perintah adalah wajib akan tetapi pendapat ini lemah karena ayat diatas datang setelah larangan, sehingga tidak menunjukkan hukum wajib.
  2. Baca entri selengkapnya »

Masalah Upah Penyembelih

Desember 2, 2008

dscf7359Tidak diperkenankan bagi penyembelih binatang qurban untuk mengambil upah yang diambilkan dari sebagian binatang qurban walaupun sedikit, seperti daging, kulit dan selainnya, sebagaimana dalam hadits:

Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk mengurusi qurbannya dan (memerintahkan) supaya aku membagi semua perlengkapan unta, serta kulit-kulitnya, dan aku dilarang memberi tukang sembelihnya upah dari (daging) qurban walaupun sedikit, sehingga kami mengupahnya dengan (harta) dari kami sendiri (bukan dari daging qurban)”. (HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah 3099).

Hadits diatas menjelaskan kepada kita bahwa penyembelih binatang qurban tidak boleh mengambil upah tersbut diambilkan dari sebagian binatang qurban tersebut. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.