Sebagian orang Arab tergesa-gesa mengangkat bendera perdamaian dengan menyalahi firman Allah SWT: “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang diatas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu”. Tetapi, kita masih tetap menyaksikan orang-orang Yahudi –sejak masa Yitzak Rabin sampai Ehud Barak- terus menyerukan bahwa al-Quds adalah ibu kota negara Yahudi untuk selamanya.
Mereka juga menggali terowongan dibawah masjidil Aqsha, yang sampai sekarang masih terus berlangsung. Sedangkan kita tidak tahu bagaimana nasib masjidil Aqsha nantinya. Masalah pembangunan rumah Yahudi pun masih terus berlangsung, ditambah lagi dengan masalah-masalah rumit lainnya. Misalnya, masalah pengungsi, masalah perbatasan, dan masalah negara Palestina yang dikatakan oleh Netanyahu bahwa negara tersebut tidak akan berdiri sampai kapan pun!
Bagaimana seorang muslim bisa mendekati dan menaruh belas kasihan kepada musuh yang kejam dan menyombongkan diri dengan kekuatan senjata nuklir mereka. Juga bangga dengan dukungan Amerika dan kekuatan internasionalnya. Bagaimana seorang muslim boleh makan makanan para musuh tersebut, sedangkan makanan itu berlumuran darah saudara-saudaranya di al-Quds dan Khalil, yang mengalir demi menggagalkan pembuatan terowongan disekitar masjid al-Quds dan dibawahnya. Juga darah yang mengalir ketika terjadi pembantaian saudara-saudaranya yang sedang menunaikan shalat di masjid Ibrahimi dan sebagainya dan sebagainya.








Komentar Terakhir