Agar Pahala Haji dan Umrah Tidak Kita Sia-Siakan…

29 01 2009

P14-12-08_05.37 Berbahagialah saudara-saudara kita yang telah menunaikan haji ataupun umrah. Karena tidak setiap muslim mampu melaksanakannya, dengan berbagai sebab dan alasan. Adakalanya, kita menemukan orang yang telah berniat dan kokoh keinginannya, namun terhalang oleh kemampuannya dalam masalah harta atau kesehatannya. Atau sebaliknya, tidak sedikit pula diantara saudara kita yang sehat dan harta mencukupi, namun belum memiliki niat untuk menunaikan haji. Maka berbahagialah orang yang telah memenuhi panggilan Allah, untuk datang ke baitullah, dan menunaikan ibadah dan menyempurnakan rukun Islam-nya.

Sekalipun demikian, bagi yang belum mampu, yang merupakan mayoritas dari warga, dengan berbagai sebab dan alasannya masing-masing, tidaklah perlu berkecil hati, karena ternyata banyak amalan yang pahalanya bernilai sama dengan haji dan umrah. Amalannya pun sangatlah “sederhana”, duduk berdzikir (ta’lim) dari shubuh hingga dhuha. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW: “Barangsiapa shalat Shubuh dengan berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian shalat dua rakaat, maka dia meraih pahala seperti pahala haji dan umrah”. (HR Tirmidzi)

Walau nampak mudah, namun ternyata perlu perjuangan untuk bisa meraih pahala ini. Rintangan yang dihadapi pun mungkin, bagi sebagian warga yang telah keletihan dan tidur larut malam, perlu dihadapi dengan tekad membaja serta perjuangan yang agak keras. Perjuangan itu dimulai sejak hendak bangun sebelum waktu shubuh. Badan yang letih karena kurang tidur atau kepayahan seharian bekerja, tentu mengajak untuk memperpanjang istirahat. Belum lagi bisikan setan yang membuai, ditambah sejuta alasan untuk kembali menutupkan kelopak mata. Bila tidak bertekad dan niat yang bulat, seberapa keraspun suara adzan tidak akan terdengar. Sekencang apapun bunyi jam waker ataupun alarm HP, hanya cukup menggerakkan tangan yang secara otomatis mematikannya. Maka, orang-orang yang hadir di masjid untuk berjamaah shalat shubuh, adalah mereka yang telah berhasil melampaui medan pertempuran tahap awal. Pada tahap awal, terjadi eliminasi besar-besaran, dari ratusan keluarga muslim, hanya belasan atau puluhan saja yang mampu melampaui “babak pembantaian” ini, untuk hadir di masjid.

Tahap berikutnya, adalah duduk seusai shalat shubuh hingga waktu dhuha (matahari terbit). Ini adalah medan tempur tahap berikutnya. Pertempuran untuk meraih pahala haji dan umrah, sesungguhnya tidaklah terlalu lama, apalagi jika dibandingkan dengan satu episode sinetron atau lainnya, kurang dari 1 jam atau malah hanya setengah jam saja. Tetapi, lagi-lagi barisan hawa nafsu dan pasukan setan kian garang menyerbu. Tarikan untuk segera ngacir dari masjid sangatlah kuat. Sejumlah alasan dan kepentingan telah disediakan bagi kita, agar gagal meraih pahala yang sempurna seperti haji dan umrah. Disinipun, tidak sedikit diantara kita berguguran. Gugur tanpa ditaburi bunga.

Dari sedikit yang lolos, masuk pada babak pertempuran yang tidak kalah sengitnya, yakni duduk berdzikir menunggu waktu dhuha. Sebetulnya, di masjid al-Amanah, dzikirnya tidaklah terlalu berat karena diisi dengan ta’lim, sehingga relatif lebih ringan dibandingkan dengan berdzikir sendirian dengan membaca al-Qur’an atau lafadz-lafadz dzikir. Tetapi begitulah, sebagaimana dikatakan dengan bergurau oleh ustadz Budi, “majlis ta’lim adalah obat mujarab untuk penyakit susah tidur”. Sesegar apapun kondisi kita, tidak ada jaminan untuk tidak diserang kantuk dalam majlis ta’lim, anehnya… begitu majlis ta’lim hampir usai, matapun kembali berbinar-binar. Nah, untuk memenangkan tahapan ini, pak Andi punya tips. Agar tidak diserang kantuk, pertama jangan duduk menyender, tapi tegak. Kalau sudah menyender, bisa dipastikan kantuk akan menyerang dengan gencar, dan sudah menunjukkan niat orang mau kalah. Kedua, kata pak Andi, duduklah tepat dihadapan ustadz. Dengan begitu, akan ada beban “malu” kalau sampai tidur dihadapan ustadz… kecuali kalau sudah tidak punya “kaisin”. Dan ketiga, masih menurut pak Andi, perhatikanlah ustadznya, jangan menunduk. Dalam majlis ta’lim, menunduk berarti tunduk… alias tunduh. Sejauh pengamatan penulis, tips ini memang pak Andi praktekkan, dan sepanjang ta’lim, beliau memang tidak pernah kepergok terkantuk-kantuk, apalagi sampai senyum-senyum sendiri karena terbawa mimpi.

Kalau babak perempat final sudah terlewati, masuklah kita pada babak final. Yakni, shalat dhuha minimalnya dua rakaat, saat waktu dhuha tiba. Kalau di masjid al-Amanah, tepat beberapa saat setelah ta’lim selesai, waktu dhuha sudah masuk. Sebenarnya dua rakaat ini sangat ringan, mungkin dalam waktu 5 menit pun sudah beres, cuma ya… itu tadi, disinilah mungkin puncak hawa nafsu kita berupaya menjegal kita, begitupula yang menggoda kita bukan lagi para setan cecunguknya tetapi sudah tingkatan korlap-nya lah. Maka tidak heran, di babak final ini, banyak diantara kita yang juga gagal. Begitu ta’lim usai, terbirit-biritlah kita menuju rumah untuk ini dan itu. Padahal, seandainya bersabar 5-10 menit saja, pahala haji dan umrah yang sudah di pelupuk mata, akan tercapai Insya Allah.

Mudah-mudahan, hari demi hari, kita berada dalam peningkatan keimanan dan kualitas ibadah dan amal kita. Termasuk dalam hal ini, yakni memanfaatkan waktu yang penuh berkah dari shubuh hingga dhuha. Setidaknya pahala haji dan umrah yang Allah sediakan setiap hari, tidak kita sia-siakan…

 


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar