Shalat Sunnah Qabliyah Jumat

Januari 2, 2009

P12-11-08_15.20 Diantara kaum muslimin ada yang setelah mendengar adzan pertama langsung berdiri dan mengerjakan shalat dua rakaat sebagai shalat sunnah qabliyah Jumat.

Dalam hal ini perlu saya katakan, saudara-saudaraku yang mulia, shalat Jumat itu tidak memiliki shalat sunnah qabliyah, tetapi yang ada adalah shalat ba’diyah Jumat.

Memang benar telah ditegaskan bahwa para shabat ra. jika salah seorang dari mereka memasuki masjid sebelum shalat Jumat, maka dia akan mengerjakan shalat sesuai kehendaknya, kemudian duduk dan tidak berdiri lagi untuk menunaikan shalat setelah adzan. Mereka mendengarkan khutbah dan kemudian mengerjakan shalat Jumat. Dengan demikian, shalat yang dikerjakan sebelum shalat Jumat adalah shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunnat mutlaq.

Dan hadits-hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan shalat sunnah qabliyah Jumat adalah dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah (argumen), karena suatu amalan sunnah itu tidak bisa ditetapkan, kecuali dengan hadits yang shahih lagi dapa diterima.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan: “Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Hibban melalui jalan Ayyub dari Nafi, dia mengatakan, “Ibnu Umar biasa memanjangkan shalat sebelum shalat Jumat dan mengerjakan shalat dua rakaat setelahnya di rumahnya. Dan dia menyampaikan bahwa Rasulullah SAW biasa melakukan hal tersebut”.

Hadits ini dijadikan hujjah oleh an-Nawawi dalam kitab al-Khulaashah untuk menetapkan shalat Jumat seraya memberikan komentar, bahwa ucapan Ibnu Umar “Dan dia biasa melakukan hal tersebut,” kembali pada ucapannya, “Dan dia mengerjakan shalat dua rakaat setelah shalat Jumat di rumahnya”. Dan hal itu ditunjukkan oleh riwayat al-Laits dari Nafi dari Abdullah bahwasanya jika telah mengerjakan shalat Jumat dia kembali pulang untuk kemudian mengerjakan shalat Jumat dia kembali pulang untuk kemudian mengerjakan shalat sunnah dua rakaat di rumahnya dan selanjutnya dia mengatakan, “Rasulullah SAW biasa melakukan hal tersebut”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Adapun ucapannya, “Ibnu Umar biasa memanjangkan shalat sebelum shalat Jumat”, maka yang dimaksudkan adalah setelah masuk waktu shalat sehingga tidak bisa menjadi marfu, karena Rasululla SAW biasa keluar ke masjid jika matahari sudah tergelincir lalu beliau menyampaikan khutbah dan setelah itu mengerjakan shalat Jumat. Jika yang dimaksudkan adalah sebelum masuk waktu shalat, maka yang demikian itu merupakan shalat sunnah mutlaq, dan bukan shalat rawatib. Dengan demikian, tidak ada hujjah di dalamnya yang menunjukkan adanya shalat sunnah qabliyah Jumat, tetapi ia merupakan shalat sunnah mutlaq.

Dan telah disebutkan adanya anjuran melakukan hal tersebut -seperti yang telah disampaikan sebelumnya- di dalam hadits Salman dan lainnya, yang di dalamnya dia mengatakan, “Kemudian dia mengerjakan shalat yang diwajibkan kepadanya”.

Selain itu ada juga hadits-hadits dhaif yang diriwayatkan berkenaan dengan shalat sunnah qabliyyah Jumat, diantaranya adalah dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan lafadz, “Dan beliau biasa mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Jumat dan empat rakaat setelahnya”. Di dalam sanadnya terdapat kelemahan.

Dan dari Ali juga terdapat hadits yang semisal yang diriwayatkan oleh al-Atsram dan ath-Thabrani di dalam kitab al-Ausath dengan lafadz, “Beliau biasa mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Jumat dan empat rakaat setelahnya,”. Di dalam sanad hadits ini terdapat Muhammad bin Abdurahman as-Sahmi, yang menurut al-Bukhari dan perawi lainnya, di adalah seorang yang dhaif (lemah). Al-Atsram mengatakan, “Ia merupakan hadits yang waahin”.

Juga masih ada hadits lainnya yang senada dengan itu, dari Ibnu Abbas dan dia menambahkan, “Beliau tidak memisahkan sedikitpun darinya”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad waahin (lemah). Di dalam kitab al-Khulaashah an-Nawawi mengatakan, “Sesungguhnya ia merupakan hadits bathil”.

Dan ada juga hadits yang semisal dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, di dalam sanadnya terdapat kelemahan dan inqithaa (keterputusan).

Al-Albani mengatakan, “Semua hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan shalat sunnah qabliyah Jumat Rasulullah SAW adalah tidak ada yang shahih sama sekali, yang sebagian lebih dhaif dari sebagian yang lain”. (Silsilah al-Ahaadits Shahiihah no 232).

Sumber: Buku 75 Kesalahan Seputar Hari dan Shalat Jumat, Wahid Abdus Salam Baali, hal 30-34.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: