Syarat Binatang Qurban

November 21, 2008

dscf7345Ada beberapa perkara yang menjadi syarat sahnya binatang yang akan dijadikan binatang qurban, diantaranya:

  1. Hendaknya binatang yang diqurbankan adalah onta, sapi atau kambing, sebagaimana yang kami jelaskan diatas, hal ini didasari oleh firman Allah: Dan tiap-tiap ummat kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka mengingat nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan kepada mereka. (QS. al-Haj 22: 34). Adapun selain onta, sapi dan kambing (seperti kuda, kijang dan lainnya) maka tidak termasuk binatang piaraan dalam istilah bahasa Arab, oleh karena itu tidak sah berqurban dengan selain tiga binatang diatas walaupun binatang itu lebih mahal harganya. (Berkata al-Azhari dan Ibnul Arobi: “al-an-am adalah onta, sapi dan kambing”, lalu mereka menyebutkan ayat-ayat yang terdapat kalimat yang bermakna binatang piaraan tersebut. (Lihat Lisanul Arab 14/212-213), demikian pula yang dikatakan syaikh Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarh al-Munthi 7/273)
  2. Binatang yang diqurbankan sudah mencapai umur yang ditentukan secara syar’i. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang berkata: Janganlah kamu menyembelih qurban kecuali musinnah, kecuali kamu kesulitan, maka boleh kamu menyembelih domba jadha’ah. (HR Muslim 2797). Musinnah atau biasa disebut dengan istilah tsaniyyah adalah setiap binatang piaraan (onta, sapi atau kambing) yang telah gugur salah satu gigi depannya yang berjumlah empat (dua di bagian atas dan dua di bagian bawah). Adapun dikatakan onta yang musinnah biasanya onta tersebut telah berumur 5 tahun sempurna, disebut sapi yang musinnah biasanya sapi tersebut telah berumur 2 tahun sempurna, dan disebut kambing yang musinnah biasanya kambing tersebut satu tahun sempurna. Sedangkan domba jadha’ah yaitu domba yang belum genap berumur satu tahun. (talkish Kitab Ahkam al-Udhiyah wadh-Dhakah, oleh syaikh Ibnu Utsaimin, hal 12-13, Fiqh as-Sunnah 2/34 dan al-Mu’jam al-Washith hal 101-102). Dari perincian diatas menjadi jelas bahwasanya tidak sah berqurban dengan onta, sapi atau kambing yang belum mencapai umur masing-masing yang telah ditentukan, ekcuali apabila tidak memiliki yang musinnah, maka boleh berqurban dengan yang dibawah musinnah.
  3. Binatang yang diqurbankan tidak boleh cacar atau berpenyakit yang parah. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW dalam hadits: Dari Baro bin Azib, bahwasanya Rasulullah pernah ditanya tentang binatang qurban yang harus dihindari. Maka beliau mengisyaratkan dengan tangannya sambil mengatakan, “Ada empat (yang harus dihindari) yaitu pincang yang benar-benar jelas pincangnya, buta sebelah yang jelas-jelas butanya, sakit yang jelas-jelas sakitnya, dan lemah atau kurus yang jelas-jelas lemah atau kurusnya. (HR Abu Daud 2802, Trimidzi 1541, Nasa’i 7/214, Ibnu Majah 3144, dan dishahihkan al-Albani dalam Myskat al-Mashobih 1465). Hadits diatas menjelaskan kepada kita beberapa kriteria yang harus dihindari dari binatang qurban, diantaranya:
  • Apabila pincang yang terlihat jelas pincangnya, yaitu apabila berjalan tidak seimbang.
  • Apabila sebelah matanya benar-benar buta, bukan sekedar juling.
  • Apabila sakit dengan sakit yang benar-benar mempengaruhi keseimbangan badan binatang tersebut, sehingga dia tampak lemah disebabkan oleh penyakit tersebut, seperti luka yang parah, kudis yang parah, atau penyakit yang lain yang mengakibatkan binatang tersebut tidak mau makan dan badannya menjadi lemah.
  • Lemah atau kurus, atau biasa disebut kering yang tidak lagi bersumsum, dan binatang yang lemah seperti ini faktor penyebab yang dominan adalah karena umurnya tua. Binatang seperti ini selain lemah dan dagingnya juga sudah tidak enak rasanya seperti binatang lainnya yang sehat, juga binatang seperti ini tidak sedap dipandang, oleh karena itulah Nabi SAW melarang berqurban dengan binatang seperti ini.
  • Demikian juga cacat atau penyakit semisal disebutkan dalam hadits Baro’ bin Azib atau yang lebih parah dari semua yang disebutkan, maka hukumnya sama. Suatu contoh binatang yang buta kedua matanya, maka tidak boleh diqurbankan, walaupun dalam hadits hanya disebutkan yang buta sebelah matanya, binatang yang putus salah satu kakinya atau lebih dari satu kakinya yang terputus, maka tidak boleh diqurbankan walaupun dalam hadits hanya disebutkan pincang. Ini semua karena berlaku hukum qiyas bahkan termasuk qiyas aulawi (penyamaan hukum yang lebih utama). (lihat Talkhish Ahkam al-Udhiyah wa adz-Dzakah Syaikh Ibnu Utsaimin hal 14 dan penggunaan qiyas aulawi dalam masalah ini dijelaskan oleh Dr. Sami ash Shuqair ketika mensyarah kitab diatas).

Hendaknya disembelih binatang qurban itu pada waktu yang ditentukan, yaitu dimulai setelah pelaksanaan shalat Idul Adha sampai akhir hari Tasyrik baik malam hari atau siang hari, sehingga jumlah hari menyembelioh adalah empat hari penuh, hari pertama adalah tanggal 10 Dzul Hijjah, diteruskan tanggal 11, 12 dan diakhiri ketika tenggelamnya matahari tanggal 13 Dzul Hijjah. Maka barangsiapa yang menyembelih binatang qurbannya sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha atau setelah tenggelam matahari tanggal 13 Dzul Hijjah maka sembelihannya bukan qurban tetapi dianggap daging biasa, sebagaimana hadits-hadits diatas. (Talkhish Ahkam al-Udhiyah wa adz-Dzakah, syaikh Ibnu Utsaimin hal 15).

Sumber: majalah al-Furqon edisi 4 tahu ke-7/Dzul Qa’dah 1428/Nov-Des 2007 hal37-38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: