Kisah Sedih di Hari Minggu

19 11 2008

sudah tidak sedih lagi

sudah tidak sedih lagi

Kisah sedih ini based on true story. Berdasarkan kisah nyata sebagaimana dituturkan oleh pelaku sejarahnya, bapak Makin. Kisah berlatar belakang dunia saham, valas (forex) dan sejenisnya. Dituturkan kembali oleh pak Makin, di hari Minggu (16/11) selepas ba’da Isya, karena beberapa alasan. Pertama, mulai maraknya penawaran bisnis forex kepada warga. Kedua, adanya beberapa warga yang sedang dan mulai tertarik dengan dunia ini. Dan ketiga, last but not least… sambil menunggu pak Roni yang belum kunjung hadir, yang rencananya rapat membahas LAZ selepas Isya. Kisah pun dimulai dengan kegandrungan beliau pada segala macam jenis usaha, dan salah satu yang sangat menariknya adalah sejenis bisnis valas, tetapi komoditi pertanian. Saat itu, tutur pak Makin, ia seperti orang gila. Stress setiap saat, mulai dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, yang pertama dan terakhir yang ada dibenaknya adalah harga indeks komoditasnya. Cut lose, clocking, suspend, lots, basis point, dan berbagai istilah-istilah lain semakin mencekam bapak-bapak yang mendengarkan dengan masih berseragam peci dan sarung. Akhirnya, pada satu malam, pak Makin mendapatkan telpon dari brokernya untuk menentukan posisi, apakah buy atau sell. Broker menyarankan buy karena indeks kopi cenderung naik. Berkal-kali beliau konfirm, berkali-kali brokernya pun menegaskan saran yang sama. Maka posisi pun diambil. Eh, ndilalah… kersaning gusti Allah, indeks kopi malah amblas!

Esok pagi yang mestinya segar dan ceria, pak Makin pun mendapat kabar bahwa seluruh dana yang dimiliki di bisnis saham itu, ludes tanpa sisa, hanya dalam semalam. Hari-hari berikutnya ia lalui di rumah sakit, karena stress. Selama seminggu beliau dirawat RS al-Islam. Setelah keluar dari rumah sakit, stress yang mulai menurun, sontak naik lagi membayangkan sang istri kalau mengetahui dana yang selama ini mereka miliki, lenyap tanpa bekas. Namun dugaannya meleset, ternyata sang istri tidak marah, malah dengan bijak memahami dan mendorongnya untuk maju terus tanpa mengulangi kesalahan yang sama. Pak Makin pun mengalami enlightment… pencerahan dari istrinya. Lalu kerugian di bisnis saham pun beliau laminating dan ditempelkan di dinding rumahnya, sebagai peringatan atas sifat rakusnya. Pak Makin pun mengungkapkan kalimat indah dari seorang suami nan penuh misteri: “Isteri saya… kitu-kitu ge ternyata alus!”

Mendekati jam 8 malam, kisah sedih yang berakhir happy ending pun harus berakhir, bukan karena telah habis jam tayangnya, tetapi karena pak Roni yang ditunggu belum juga muncul…


Tindakan

Information

2 tanggapan

19 11 2008
Safrijon

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya sebagai warga Rancamanyar Regency khususnya jamaah Masjid Al amanah turut prihatin atas kejadian yang menimpa Pak Makin ini. Saya pribadi dan mudah-mudahan warga yg lain bisa mengambila hikmah dari kejadian ini. Kita hidup di dunia ini harus menjalankannya sesuai apa yg diperintahkan oleh Allah swt. Apalagi bisnis seperti yg dilakukan Pak Makin ini, masih ada pro dan kontra, apakah termasuk halal atau haram.
Kita harus yakin bahwa rejeki atau keuntungan yg besar tidak mungkin didapat hanya sekejap saja tanpa ada usaha yang real apalagi yg gratis. Kalau ada yang mendapatkan keuntungan yang besar ( berlipat-lipat ) dengan hanya mengeluarkan uang sedikit, apakah itu bukan Judi ??????
Maka ……waspadalah ……..waspadalah …….
eh……eh……Pa Roni….masih pulang malem aja ??? ga kapok ya……ntar rambutnya jadi putih semua …he …….he…..
Pak Dodi,
Bagaimana kalau mau kirim artikel atau renungan islami ? sementara ini sy kirim via email.

Jazk,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

19 11 2008
alamanah1429

bapak bisa menjadi kontributor blog, insya Allah saya kirim via e-mail aplikasinya, tinggal bapak jawab. Jazakallah khairaan.
Siapa lagi warga yang mau menjadi kontributor blog? kirim alamat emailnya ke email dkm: alamanah.dkm@gmail.com

Tinggalkan komentar